Perbedaan QRIS statis dan QRIS dinamis
QRIS statis memakai satu kode untuk semua transaksi, QRIS dinamis memuat nominal per transaksi. Ini perbedaannya dan cara memilih yang cocok untuk usahamu.
Tim WaroengPay · Diperbarui · 6 menit baca
QRIS (dibaca "kris") adalah standar QR code pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia. QRIS diluncurkan pada 17 Agustus 2019 dan wajib dipakai sejak 31 Desember 2019, sehingga satu kode QRIS bisa dibayar dari aplikasi bank atau e-wallet apa pun.
Untuk QR yang dipajang atau ditampilkan penjual (disebut Merchant Presented Mode), ada dua jenis: QRIS statis dan QRIS dinamis. Bedanya ada pada satu hal: apakah nominal pembayaran sudah tersimpan di dalam kode atau belum.
Ringkasan perbedaannya
| Aspek | QRIS statis | QRIS dinamis |
|---|---|---|
| Nominal | Diketik sendiri oleh pembeli | Sudah tersimpan di dalam kode |
| Jumlah kode | Satu kode untuk semua transaksi | Kode baru untuk setiap transaksi |
| Bentuk | Stiker atau cetakan yang dipajang | Tampil di layar: mesin EDC, HP, aplikasi kasir, atau website |
| Salah nominal | Bisa terjadi, pembeli salah ketik | Hampir tidak mungkin, nominal terisi otomatis |
| Mengenali pembayaran | Dicek manual dari notifikasi atau mutasi | Bisa dicocokkan otomatis dengan pesanannya |
| Cocok untuk | Warung, lapak, dan usaha mikro | Kasir ramai, toko online, dan tagihan |
QRIS statis: satu stiker untuk semua pembeli
QRIS statis adalah kode yang sama untuk setiap transaksi. Penjual cukup memajang stiker atau cetakan QRIS dari bank atau penyedia pembayarannya. Pembeli memindai kode itu, mengetik nominal sendiri, memasukkan PIN, lalu uangnya masuk ke rekening penjual.
Menurut Bank Indonesia, QRIS statis adalah cara paling mudah dan sangat cocok untuk usaha mikro dan kecil. Kekurangannya baru terasa saat transaksi mulai banyak:
- Pembeli bisa salah mengetik nominal, misalnya Rp15.000 menjadi Rp1.500.
- Saat pembeli ramai, sulit memastikan siapa yang sudah membayar, karena semua pembayaran masuk lewat kode yang sama.
- Penjual harus mengecek notifikasi satu per satu dan mudah tertipu layar "pembayaran berhasil" yang belum tentu asli.
- Stiker yang dipajang bisa ditimpa stiker QRIS milik orang lain, sehingga pembayaran masuk ke rekening yang salah.
QRIS dinamis: kode baru dengan nominal di dalamnya
QRIS dinamis dibuat khusus untuk satu transaksi, lengkap dengan nominalnya. Penjual atau sistem kasirnya memasukkan nominal lebih dulu, lalu kodenya tampil di layar mesin EDC, HP, aplikasi kasir, atau halaman checkout. Pembeli tinggal memindai dan mengonfirmasi tanpa mengetik nominal.
Bank Indonesia menyebut QRIS dinamis cocok untuk usaha menengah dan besar atau usaha dengan volume transaksi tinggi. Keuntungannya:
- Nominal pasti benar, jadi tidak ada kurang bayar karena salah ketik.
- Transaksi lebih cepat, karena pembeli tidak perlu bertanya atau mengetik harga.
- Setiap pembayaran bisa dicocokkan otomatis dengan pesanannya, misalnya lewat nominal unik atau nomor transaksi dari penyedia pembayaran.
Kekurangannya, QRIS dinamis butuh perangkat atau sistem yang membuat kode baru di setiap transaksi. Untuk usaha kecil, sistem itu biasanya disediakan penyedia pembayaran atau payment gateway.
Secara teknis, apa bedanya?
QRIS disusun dengan standar internasional EMVCo. Isi QR code-nya adalah deretan teks berisi data merchant: setiap data diawali nomor tag dua digit dan panjangnya dua digit. Dua bagian yang membedakan statis dan dinamis:
- Tag
01(point of initiation method) bernilai11untuk QRIS statis dan12untuk QRIS dinamis. - Tag
54(nominal transaksi) hanya ada di QRIS dinamis. Contohnya540550137: tag 54, panjang 5 karakter, nominal Rp50.137.
Bagian terakhir QRIS adalah tag 63, yaitu checksum CRC dari seluruh isi kode. Karena itu isi QRIS tidak bisa diubah sembarangan: satu karakter yang berubah tanpa checksum baru membuat kodenya ditolak aplikasi pembayaran.
Mana yang cocok untuk usahamu?
- Pembeli datang langsung dan transaksi masih sedikit: QRIS statis sudah cukup. Biasakan mengecek notifikasi di aplikasi merchant sebelum pembeli pergi.
- Pembeli sering antre atau sering salah nominal: pakai QRIS dinamis dari mesin EDC atau aplikasi kasir.
- Jualan online lewat website, chat, atau bot: pakai QRIS dinamis, karena pembayaran harus bisa dikenali tanpa melihat pembelinya.
- Pesanan harus lunas otomatis di sistemmu: pakai QRIS dinamis dengan nominal unik atau nomor transaksi, ditambah kabar ke server lewat webhook.
Keduanya juga bisa dipakai bersamaan: stiker QRIS statis untuk pembeli yang datang langsung, dan QRIS dinamis untuk pesanan online.
Batas nominal dan biaya MDR
Aturan berikut berlaku untuk QRIS statis maupun dinamis, sesuai halaman resmi QRIS Bank Indonesia saat artikel ini ditulis:
- Nominal paling banyak Rp10.000.000 per transaksi. Penerbit aplikasi pembayaran juga boleh menetapkan batas harian atau bulanan.
- Biaya MDR (merchant discount rate) dibebankan ke penjual. Untuk usaha mikro: 0% untuk transaksi sampai Rp500.000 dan 0,3% di atasnya. Untuk usaha kecil, menengah, dan besar: 0,7%. Ada tarif khusus, misalnya 0,6% untuk pendidikan, 0,4% untuk SPBU, dan 0% untuk donasi sosial.
Tarif bisa berubah sewaktu-waktu, jadi selalu cek angka terbaru di halaman QRIS Bank Indonesia.
Cara WaroengPay memakai QRIS dinamis
Setiap tagihan WaroengPay mendapat QRIS dinamisnya sendiri dengan nominal unik: harga ditambah kode unik Rp100 sampai Rp250. Pembeli memindai dari aplikasi apa pun dengan nominal yang sudah terisi. Selama ada tagihan yang menunggu, WaroengPay membaca mutasi rekening merchant setiap 8 detik dan menandai tagihan lunas begitu nominalnya cocok.
Untuk QR yang dipajang atau dibagikan berkali-kali, pakai link pembayaran. QR cetaknya berisi alamat link, dan setiap pembeli yang membayar lewat link itu mendapat QRIS dinamis baru.
Baca juga: apa itu kode unik transfer, QRIS manual vs payment gateway, konfirmasi pembayaran otomatis, dan QRIS otomatis untuk produk digital.